Otek berdiri di depan cermin. Dari mulutnya terdengar lagu’dealova’nya Once. Padahal jangankan nyanyi, ngomong aja ntu anak kadang-kadang suaranya fals. Tapi Otek cuek. Gak ada yang denger ini, begitu pikirnya.
Otek senyum-senyum sendiri. “Udah sip!” gumamnya. Dia seneng banget malam ini. Soalnya tadi siang, si cantik Lies, anak baru yang jadi rebutan para mahluk berkumis di sekolahnya mengiyakan ajakannya untuk nonton film.
Sayang, motor gue dipake Robi, kalo nggak, Wih! Otek membatin. Benaknya dipenuhi bayangan-bayangan indah.
“Kau tahu apa yang paling kunikmati dalam hidup ini?” tanya laki-laki bengis itu dengan rahang bergemeletuk. “Bukan seks, Nona! Tapi bau khas keringat orang yang tengah sekarat!”
“Kau iblis!” desis Murni sambil melengos menghindari belaian tangan di wajahnya.
“Ha…ha…ha…,” laki-laki itu tergelak mendengar makian Murni. Tapi hanya sekejap, seterusnya wajah itu kembali dingin, sedingin tatapan matanya yang membuat Murni merinding.
“Aku suka dengan makianmu,” desisnya di telinga Murni.
Murni ingin sekali menangis, tapi sepertinya air matanya pun takut menampakan diri di hadapan laki-laki itu. Oh, Tuhan, kenapa kau kirim iblis ini kepadaku? Apa salahku? Separah inikah akibat dari keisenganku? tanya hatinya.
Awalnya memang hanya karena sipat iseng Murni. Ia yang suka mengganggu orang, malam itu melihat laki-laki yang kini ada di hadapannya, dengan langkah mencurigakan tegah menenteng sesuatu yang terlihat berat. Mulanya Murni tak mempedulikan, tapi sipat ingin tahunya mendorongnya untuk sekedar mengetahui apa yang tengah dilakukan laki-laki itu di halaman sebuah rumah kebun.
Mengendap-endap ia ikuti laki-laki yang sepertinya menyadari bila ada yang memperhatikan gerak-geriknya. Sampai akhirnya di balik semak-semak taman dia kehilangan jejak. Hanya itu yang ia tahu, selebihnya dunia terasa gelap. Dan ketika tersadar, ia dapati dirinya dengan kaki dan tangan terikat rantai yang digembok ke bangku kayu. Belakang kepalanya berdenyut sakit.
Ia kini telah berada di sebuah ruangan yang nampak seperti ruang tamu. Matanya menyapu ke sekeliling, hinggap di sebuah potret seorang lelaki yang tergantung di dinding, hinggap di tiap sudut barang yang tertata rapih, dan… hinggap di sosok wajah yang begitu dekat dengan wajahnya.
Seringai yang teramat dekat di wajahnya membuat Murni terhenyak, kaget luar biasa. Entah dari mana munculnya laki-laki yang kini ada di sampingnya itu.
“Kau nampak keget, anak manis? Atau mungkin takut? Jangan biarkan rasa takut hinggap lama-lama di benakmu, sebab itu bisa merusak jiwa, bukan begitu?”
“A, apa maumu? Di mana aku? Kenapa kakiku dirantai? Apa salahku?”
“Kau ingin aku menjawab semua pertanyaan itu? Baiklah,” laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Murni. Begitu dekat, hingga Murni merasakan panasnya napas yang terhembus dari hidung laki-laki itu. Murni merasa dirinya bagai makanan melihat cara laki-laki itu mengendus-endus wajah dan kepalanya. Murni bergidik membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya.
“Kau berada di rumahku. Kau ’aman’ di sini. Kedua, aku takut bila tidak dirantai kau akan pergi meninggalkan aku sendiri. Yang ketiga, kau terlalu banyak tahu. Oh ya, untuk pertanyaan yang pertama aku belum punya jawabannya. Banyak sekali pilihan untuk dirimu, Nona.”
Pria itu mengambil bangku kayu di sampingnya, meletakannya di hadapan Murni, dan duduk sambil meletakan minuman kaleng di atas meja. Tiba-tiba ia bangkit.
“Aku punya sesuatu yang menarik. Aku rasa kau akan menyukainya,” pria itu berjalan ke sebuah kamar. Beberapa saat kemudian ia keluar dengan dua buah album foto di tangannya.
“Coba kau lihat yang ini, Nona.” Album itu diletakan di pangkuan Murni. Dan ketika album itu dibuka, Murni mendadak merasa mual, kepalanya berdenyut sakit menyaksikan foto-foto mengerikan di hadapannya dibuka satu demi satu. foto korban pembantaian dengan berbagai macam pose.
“Coba lihat yang ini,” pria itu bersemangat sekali menunjukan foto demi foto seperti menunjukan potret kenangan pernikahan. “Aku suka sekali dengan yang ini. Aku sukar sekali menghabisi nyawanya. Dia memberikan perlawanan yang cukup membuatku kewalahan. Tapi akhirnya dia harus mengakui keunggulanku. Coba perhatikan kampak yang tertancap di kepalanya. Aku habisi dia dengan bacokan mematikan.”
Murni sudah tak mampu lagi mendengar semua yang diucapkan laki-laki itu. Jiwanya terguncang membayangkan bagaimana manusia-manusia itu mati dengan cara yang mengerikan.
Oh Tuhan, orang gila macam apa dia, membunuh begitu banyak manusia? Apa motivasinya? Untuk kesenangankah? Bila iya, Ibu macam apa yang telah melahirkan iblis ini? Batin Murni.
“Mengapa, Nona, kau takut? Ya, aku melihat sinar ketakutan di matamu. Aku suka sinar di matamu itu, Nona. Seperti kelinci yang terpojok oleh harimau.”
Ya, Murni memang merasa takut sekali. Bagaimana tidak takut, sendiri di sebuah rumah dengan tangan dan kaki terikat rantai, bersama pria gila. Murni memang dibiasakan untuk tidak mudah takut terhadap apa pun oleh orang tuanya. Tapi, wanita mana yang sanggup menghadapi teror psikologis seperti yang tengah dialaminya kini? Wonder Women! Ya, mungkin hanya Wonder Women sajalah yang mampu menghadapi keadaan seperti ini. Tapi itu pun hanya ada di film, bukan di dunia nyata.
“Oke, kita mulai dari awal,” pria itu menatap tajam ke manik-manik mata Murni. “Apa maksudmu menguntitku? Jawab yang jujur. Aku paling suka menguliti pembohong!” desisnya
Murni tidak mendengar nada main-main dalam ucapan pria itu. Dan memang tidak tampak ada rasa belas kasihan sedikit pun di mata itu. “Semalam aku hanya iseng. Sungguh, semalam aku ingin membeli martabak, tetapi ketika melewati rumah itu aku melihat kamu membawa bungkusan besar. Karena ingin tahu, aku mengikutimu.”
“Siapa namamu?”
“Murni.”
“Nama yang bagus. Aku suka denganmu. Kau sepertinya memiliki keistimewaan yang rasanya tidak dimiliki oleh korban-korbanku yang lain,” ujar pria itu. Ia lantas mengambil minuman kaleng yang ada di atas meja untuk kemudian meminumnya.
“Kau mau minum? Jangan tolak tawaranku. Karena aku hanya sekali menawarkan.”
Murni ingin menolak, tapi rasa haus memang sudah menderanya sejak malam tadi. Pria itu berjalan menuju kulkas.
Murni memandangi sosok atletis itu. Apa yang membuatnya menjadi pembunuh sadis? Padahal sebagai manusia ia sempurna sekali. Wajah tampan yang mirip Antonio Banderas, dengan mata yang tajam dan tubuh yang atletis, ditambah dengan kekayaan. apalagi yang kurang dalam hidupnya? Apa, apa, dan apa begitu banyak di benak Murni.
Murni tergagap ketika disodorkan minuman kaleng yang sudah dibuka lengkap dengan sedotannya. “Minumlah, aku ingin istirahat sebentar. Jangan coba-coba membuat keributan!” Ancamnya sambil meletakan minuman itu di pinggir meja .Maksudnya agar murni mudah menjangkau dengan mulutnya. lantas dia berlalu meninggalkan Murni.
***
Rumah megah dengan arsitektur bergaya Spanyol itu tampak asri dari kejauhan. Pintu gerbang elektronik dengan pembuka dan penutup menggunakan remot control, halaman luas dan teduh yang banyak ditumbuhi bunga-bunga yang tertata rapih, dengan kolam renang di tengah-tengahnya membuat rumah itu nyaman dan indah. Sebuah rumah impian kebanyakan para penghuniu planet ini.
Tapi siapa sangka ‘surga’ itu di huni oleh seorang iblis penjagal manusia. Dan kini tengah berlangsung penyiksaan Psikologis---atau bahkan fisik di sana.
Murni merasakan seluruh tubuhnya pegal-pegal karena tidur sambil duduk dengan kedua tangan dan kaki terbelenggu. Ia berharap semua yang dialaminya hanyalah sebuah mimpi buruk yang akan segera sirna bila ia bangun dari tidurnya. Tapi ia dapati dirinya mengalami semua semalam. Semua nyata adanya.
Oh, Tuhan, tolonglah hambaMu ini. Lepaskanlah aku dari iblis yang satu ini. Aku berjanji untuk menjadi orang yang taat beribadah bila lolos dari neraka ini, batinnya.
“Selamat pagi, Murni,” lamunan Murni buyar oleh sapaan halus tersebut. “Kita akan membuat sarapan lezat pagi ini. Kau tentu lapar setelah malam yang melelahkan.Kau tentu juga bertanya-tanya kenapa rumah sebesar ini Cuma aku yang menempati. Memang aku Cuma sendiri. Pembantu-pembantuku selalu aku liburkan bila aku sedang ingin bersenang-senang”
Mereka berdua sarapan tanpa banyak bicara. Tak ada tanda-tanda laki-laki itu akan membunuh atau melepas murni.
“Aku akan berangkat kerja. Jangan coba-coba lari dari tempat ini karena tiga anjingku akan menjagamu di sini. Mereka tidak segan mencabik-cabik tubuh mulusmu. Ingat itu!” laki-laki itu lantas bersiut nyaring. Beberapa saat kemudian munculah monster-monster bermoncong. “Jaga wanita ini anak-anak!”
***
Sore yang kelabu bagi Murni. Tubuhnya yang lemah dan teror psikologis yang diterimanya membuat ia semakin kehilangan semangat hidupnya. Jam 5;30 laki-laki itu baru pulang dari tempat kerjanya. Setelah mandi ia menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Kali ini Murni makan dengan menggunakan kedua tangannya yang sudah dilepaskan oleh laki-laki tersebut.
“Makanlah yang banyak, karena ini adalah hari terakhirmu menikmati makanan. Tadi di tempat kerja aku mendapat ide bagaimana cara menghabisimu.” Laki-laki itu berkata tanpa ekspresi.
Murni bergidik mendapat tatapan dari laki-laki itu.
“Aku memang menikmati bau keringat orang-orang yang sekarat, tapi seks pun menyenangkan bagiku.” Murni paham ke mana arah pembicaraan laki-laki itu. “Biar lebih indah, lebih baik kau mandi dulu, Murni.”
Dengan paksa Murni diseret ke kamar mandi. Ia dengan ditonton laki-laki itu akhirnya mandi. Tak sedikitpun Ia mengeluarkan suara. Ia sudah seperti mayat hidup. Emosinya seakan mati setelah apa yang dialaminya semalam. Setelah selesai mandi Murni dibawa ke salah satu kamar.
“Duduklah!” perintah laki-laki itu sambil mengunci pintu kamar. “Aku tidak bernapsu bermain cinta dengan ‘kedebong pisang’. Jadi lakukanlah perlawanan semampumu, Nona. Aku akan bergembira sekali.”
Murni hanya pasrah ketika laki-laki itu menggumulinya dengan bernapsu sekali. Laki-laki itu tak menyisakan sedikitpun, meski itu hanya setitik harapan. Terbayang di matanya wajah orang-orang yang dicintainya, Ayahnya, Ibunya, adiknya, juga kekasihnya yang pasti sedang panik karena dia tak jua pulang….
Tak ada gunanya lagi hidup ketika sesuatu yang sangat barharga direnggut paksa.
“Hidup tak selalu sesuai dengan keinginan kita. Tak selalu perlu ada kebetulan dan keajaiban di akhir sebuah cerita…” Kalimat dari dosen filsafatnya itu terngiang kembali di telinganya.
Satu tahun kemudian ada berita menghebohkan: DITEMUKAN KUBURAN MASSAL DI RUMAH KEBUN
..... Bunuh! Bunuh mereka semua! Suara itu bergema kembali di telingaku.
Entah sejak kapan suara itu mulai mengusikku. Aku tak tahu. Yang pasti, aku mulai merasa terganggu oleh bisikan-bisikan yang bertentangan dengan nurniku itu.
He…he…he…, kau berusaha menyelidiki aku rupanya. Tak semudah itu anak muda. Semua jiwa yang terperangkap olehku jarang sekali yang mampu melepaskan diri. Usahamu akan sia-sia. Lebih baik kau turuti saja kemauanku, suara itu terdengar lagi. Kali ini dengan nada mengancam.
Kucoba mengabaikan suara-suara yang menggangguku dengan bernyanyi kecil sepanjang jalan menuju rumahku. Sesampainya di rumah aku langsung meletakan bungkusan berisi cairan pembasmi serangga pesanan ayahku di atas meja.
Tadi pagi, sebelum berangkat ke rumah nenek dengan ibu dan adik-adikku, beliau memang menyuruhku membeli barang yang paling tidak kusukai itu.
Sementara itu senja kelabu mulai merangkak mendekati gelap. Dan awan hitam di angkasa tak sanggup menahan keinginan air untuk membentuk hujan yang kemudian jatuh di mataku.
Musim hujan kali ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, seperti membawa kutukan dari langit. Banyak sekali bencana. Dari mulai tanah longsor,banjir, sampai wabah demam berdarah.
Untuk yang pertama dan yang kedua aku tak khawatir, karena rumah yang kutempati bukan berada di daerah dataran tinggi berbukit-bukit, juga bukan di dataran rendah yang rawan banjir.
Yang paling kutakuti saat ini adalah demam berdarah, karena menurut cerita pak Soleh, pemilik warung kelontong tempat aku membeli racun serangga tadi, di kampung ini dalam sebulan sudah dua orang yang menjadi korban keganasannya.
Kuhempaskan tubuhku yang letih di sofa ruang depan rumahku. Kelelahan yang menderaku setelah seharian membersihkan tempat-tempat yang kutenggarai menjadi sarang nyamuk membuat kelopak mataku terasa berat.
Tak kupedulikan lagi satu-dua nyamuk yang menjengkelkan mengigitku. Akhirnya aku pun tertidur. Itu membebaskan diriku dari bisikan-bisikan sialan yang selalu menggangguku.
***
Aku berjalan di tengah padang rumput yang luas sekali. Sejauh mata memandang hanya kehijauan yang membentang, laksana permadani raksasa. Sepertinya padang rumput itu memang tak bertepi.
Aku berjalan terus tanpa mengenal lelah. Yang kurasakan saat itu hanya rasa takjub sekaligus takut. Apalagi saat di benakku muncul bayang-bayang iblis bemuka seram seperti yang sering diceritakan nenek waktu kecil dulu tiap kali aku akan pergi tidur.
Celakanya, ketakutanku menjadi kenyataan. Di kejauhan aku melihat sosok yang makin lama makin sekat, dekat, dan semakin jelas. Sosok hitam legam dengan wajah seekor bunglon.
Rasa takut yang begitu dahsyat memantek diriku saat sosok itu menatap diriku sambil menyeringai memamerkan taring-taringnya yang meneteskan darah. Benar-benar mengerikan.
Aku seperti terhipnotis, menuruti saja kemana langkah kaki iblis itu.
Lalu di suatu tempat yang di kelilingi oleh jurang teramat dalam, tiba-tiba iblis itu menghilang tinggalkan diriku sendirian dicekam ketakutan.
Seiring dengan lenyapnya iblis itu, dari kejauhan terdengar suara berdengung mirip suara ribuan lebah. Dan… jutaan nyamuk menyerbu diriku hingga seluruh tubuhku tertutup oleh banyaknya serangga penghisap darah tersebut. Aku merasa bagai tertusuk ribuan jarum.
Setelah puas menghisap darahku, nyamuk-nyamuk itu serentak, seperti dikomando membawa terbang diriku tinggi sekali, dan kemudian melepaskan diriku. Aku pun meluncur bebas dengan deras kedasar jurang yang gelap itu.
“Brak!”
Aku terjatuh dari sofa. Untung hanya mimpi, batinku. Tapi tak urung kepalaku berdenyut sakit. Dengan malas aku perlahan bangkit, meraba-raba di kegelapan, mencari tombol lampu. Rupanya keluargaku belum pulang dari rumah nenekku.
***
Malam makin larut. Keheningan terasa kian mencekam. Kulihat wajahku di cermin, nampak pucat dan kurus. Mataku terlihat memerah dan agak mencelong ke alam. Tulang pipiku pun tampak agak menonjol keluar.
Beberapa hari ini aku memang kurang tidur, karena banyak sekali nyamuk yang menggangguku dengan gigitan maupun suara dengungannya. Dan itu membuat selera makanku hilang.
“Tidur, Yan . Sudah malam,” kata ayahku dari kamarnya. Rupanya ayahku terbangun.
“Iya,” jawabku.
Di mana-mana orang tua memang seperti itu, gampang sekali terbangun oleh suara-suara di tengah malam. Tidak seperti adik-adikku yang kini bergeletakan beralas tikar di hadapanku.
Memang untuk ukuran keluarga besarku yang berjumlah sebelas orang, rumahku termasuk sempit. Hanya ada dua kamar tidur. Yang satu ditempai oleh kedua orang tuaku, dan kamar yang satunya lagi ditempati oleh ke-empat adik perempuanku. Terpaksa, sebagai anak laki-laki, aku dan ke empat adikku mengalah, tidur di ruang tamu.
Kulihat Pusy, kucing kesayanganku, bergelung di antara kaki Andre, adik bungsuku yang berumur lima tahun. Tidurnya terlihat nyenyak sekali. Mungkin karena hangat.
Aku memang penyayang binatang. Aku paling tidak tega meyakiti atau melihat binatang menderita, terutama kucing. Maka kubiarkan Pusy tidar bersama kami.
Kurebahkan tubuhku di samping Pusy, sambil berharap dapat tidur nyenyak dengan mimpi yang indah. Tapi tiap kali kupejamkan mataku malah terasa pedih.
Ah, ini semua gara-gara rumah yang baru kutempati beberapa hari ini. Banyak lubang-lubang yang belum semuanya tertutup. Jendela belum dipasangi kaca, baru hanya ditutup denag dua buah papan. Mungkin itulah biang keladi dari semua ini.
Bunuh! Bunuh mereka semua! Suara itu lagi-lagi terngiang di telingaku, lebih halus, lebih lembut, tapi sekaligus semakin menikam hatiku.
Tidak! Nuraniku berontak berusaha melepaskan diri dari bisikan-bisikan laknat tersebut.
Mereka telah menyakitimu, Bodoh! Suara itu menghardikku.
Aku memandang adik-adikku yan tidur dengan gelisah. Malam ini memang lain dari biasanya. terasa agak gerah. Mungkin akan turun hujan.
Kasihan mereka, batinku.
Peduli setan! Maki suara itu.
Pergi kau, haram jadah! Aku muak dengan ocehanmu! Nuraniku meradang. Tapi suara itu malah tertawa mengejekku.
Sudahlah, apa lagi yang kau tunggu. Bunuh saja mereka. Toh, mereka tidak menguntungkan bagimu, suara itu membujuk.
Tapi mereka mahluk-mahluk Tuhan. Aku tak mau membantai mahluk-mahluk Tuhan.
Bodoh! Suara itu menyela. Inilah saat yang tepat untuk mengakhiri penderitaanmu, anak muda.
Tidak! Mereka berhak hidup seperti diriku. Memang, aku kecewa karena mereka selalu menggangguku. Tapi… tidak! Aku tidak mau, dan tak akan pernah mau.
Harus! Kau harus membunuh mereka. Kalau tidak, kau yang akan celaka.
Perang dahsyat yang berkecamuk di dalam hatiku sejak beberapa hari yang lalu itu berakhir dengan mengenaskan. Hatiku kalah berperang. Akhirnya dengan terpaksa aku bangkit, meraih botol racun serangga.
Di malam yang dingin dan mencekam itu, dengan air mata berlinang aku memulai aksi pembantaian. Demi satu alasan, untuk menghindari demam berdarah.
Satu demi satu nyamuk itu mati… padahal aku penyayang binatang.
Resep membuat masa depan suram: Ambil kemalasan, kalau bisa yang paling malas, campur dengan rasa gak tau malu sebanyak-banyaknya, bungkus dengan ngorok terus, dan padatkan dengan sepenggal penyesalan masa lalu, setelah matang iris tipis-tipis setipis harapan. Nikmati sambil begadang.